Tidak terasa hari ini “Myra” sudah genap ber-umur 2 tahun …
Masih saja terbayang dibenakku waktu pertama Myra lahir di dunia, saat Myra pertama kali tengkurap, duduk, kata pertama dan kalimat pertama, gigi pertama, makanan padat yang pertama kali, saat merangkak, saat belajar berjalan, etc etc, semuanya masih fresh dalam memoryku, sampai saat ini terasa semuanya semakin jelas semakin banyak saja tingkah lakunya..Dengan celotehnya yg luar biasa membuat orang terkagum bahkan terkaget2 karena saking cerewetnya bahasa Indonesianya yg lancar dan jelas, membuat mama senang sekali,belum lagi bhs Belandanya yg lucu tercampur dgn bhs Jakartanya
, saat mendengar lagu2 anak atau lagu apa saja dengan sigapnya kepala dan badannya digoyang2 serta mulutnya mengikuti iringan lagu…dan masih banyak lagi kebolehan2mu Nak serta tingkah lucu dan kenakalan anak2 yg mungkin kalo mama paparkan di blog ini tidak akan habis2nya karena saking banyaknya
akhirnya mama dan papa serta kakakmu “Ruben” mendoakan semakin Myra bertambah umur semakin Myra dekat kepada Tuhan,diberi kesehatan,kepintaran dan berkat yang bersumber dari Tuhan..
Memang mama dan papa tidak buat pesta besar2an, kami rencana membuat ucapan syukur saja berbarengan ultah Ruben (yg nanti pas 29 Okt ber-umur 4 tahun) rencananya di gereja, awal November nanti..
Ada pesan buat Myra dari mama dan papa semoga kalo Myra besar dan sudah bisa membaca, cobalah baca renungan dibawah ini ya nak……
BERSEPEDA BERSAMA JESUS
|
|
Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.
Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah.Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.
Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi … biasanya, hal itu tak berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya! Terkadang rasanya seperti sesuatu yang ‘gila’, tetapi Ia berkata, ‘Ayo, kayuh terus pedalnya!’
KadangAku takut, khawatir dan bertanya, ‘Aku mau dibawa ke mana?’ Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan. Dan ketika aku berkata, ‘AKU TAKUT!’ Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.
Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan … orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan … perjalananku bersama Tuhanku.
Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.
Kemudian, Yesus berkata, ‘Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya;
Jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita.’
Maka, aku pun melakukannya.
Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka.
Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.
Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya.
Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda.
Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan.
Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh … menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus.
Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan,
Yesus akan tersenyum dan berkata …
‘Mengayuhlah terus, Aku bersamamu.’


